Sabtu, 08 Maret 2014

Wow, Gulungan Teks Alkitab Berusia 2.000 Tahun Ditemukan


Kabar24.com, JAKARTA—Sembilan gulungan berisi teks Alkitab ditemukan di Gua Qumran, 14,4 km sebelah selatan Yerikho. Di lokasi itu pula naskah laut mati ditemukan dulu.
Gulungan itu, ditemukan oleh arkeolog Yonatan Adler, yang tengah menyusuri lokasi tersebut untuk menemukan barang-barang arkeologi
"Tidak setiap hari Anda dapat kesempatan menemukan manuskrip baru. Ini menarik," kata arkeolog Yonatan Adler seperti diberitakan Live Science.
Sembilan dokumen baru yang belum seluruhnya diteliti ini belum jelas apa yang tertulis di dalamnya. Adler mengumumkan temuannya ini di konferensi internasional Qumran dan Laut Mati di Lugano, Swiss .
Gulungan yang baru ditemukan dan berasal dari 2.000 tahun lalu itu tersembunyi di balik tiga tempat kulit teffilin yang juga dikenal dengan nama phylacteries, biasanya dibawa oleh laki-laki Yahudi.
Menurut kantor berita Italia, Ansa Mediterranean, tempat itu pertama kali dikeluarkan dari gua pada 1950, tapi isinya tampaknya tidak pernah diteliti.
Berawal pada 1940an, sisa dari 900 manuskrip ditemukan di 11 gua dekat situs Qumran. Kumpulan teks Alibat berbahasa Ibrani, yang dikenal dengan nama Naskah Laut Mati, termasuk Genesis, Exodus, Isaiah, Kings, dan Deutoronomy.
Qumran, dalam bahasa Ibrani Khirbet Qumran, adalah nama modern bagi lokasi dari biara di Laut Mati. Para ahli berkesimpulan bahwa Qumran adalah tempat tinggal kaum Eseni di pesisir Laut Mati. Selain itu Qumran juga menjadi pusat aktivitas para kaum Eseni. Para ahli-ahli purbakala pun menggali daerah itu.
Ditempat itu, para penggali itu menemukan meja-meja kapur di Qumran. Mereka yakin bahwa di atas meja-meja inilah Gulungan Laut Mati ditulis, disalin dari generasi ke generasi oleh para juru tulis biara.
Diperkirakan gulungan-gulungan tersebut ditemukan pada tahun 1947 dan sesudahnya.
Meja-meja tersebut ditemukan di atas tanah di antara reruntuhan yang menggunung bersama robohnya bangunan berlantai dua. Para arkeolog berpendapat bahwa posisi meja-meja menjadi seperti itu karena jatuh dari ruangan yang runtuh. Ruangan itu mereka namakan "scriptorium" yang artinya "ruangan untuk menulis".
Penduduk yang tinggal di sana ternyata merupakan suatu persekutuan dari pertengahan abad kedua sebelum Masehi.  Mereka tinggal di daerah tersebut sampai daerah itu direbut oleh Roma dalam perang pada tahun 66-67 Masehi.


LinkWithin